Dulu saya sering mendapat label dari keluarga dan orang-orang sekitar sebagai anak yang pemalu, takut orang, minderan, gak pede.
Tumbuh besar saya lalu menemukan bahwa semua yang dilabelkan kepada saya ini disebut "introvert". Saya lebih senang menyendiri di rumah daripada harus bertemu dengan orang-orang apalagi yang belum saya kenal.
Sebenarnya kalo saya tarik ke belakang sifat introvert saya sedikit banyak berasal dari didikan orang tua juga. Saya yang anak perempuan satu-satunya ini dilarang bermain sepulang sekolah, teman dibatasi, hanya boleh berteman dengan anak yang orang tua saya sukai, tidak punya pilihan bahkan cita-cita saya saja diatur harus jadi apa. Tidak boleh mengikuti ekskul di sekolah, les pun privat memanggil guru ke rumah. Ruang gerak saya sangat dibatasi. Jadi sampai saya sebesar ini sekarang, teman saya bisa dihitung hanya dengan hitungan jari saja.
Sejak menikah, hamil dan punya anak, saya jadi rajin mencari tahu tentang ilmu parenting. Saya jadi tahu kalau yang orang tua saya lakukan dulu itu salah, saya jadi tahu kalau ternyata ada hak anak yang harus dipenuhi oleh orang tuanya.
Anak juga punya pemikiran sendiri yang nanti ketika dewasa harus hidup dengan dunianya sendiri dan akan menghadapi kesulitan hidupnya sendiri.
Segala fasilitas dan batas yang terlalu berlebihan pada akhirnya akan menjadikan anak sebagai orang yang tidak mandiri, tidak bisa memutuskan sesuatu sendiri, tidak kuat dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup yang dihadapi.
Sempat juga saya merasa marah kepada orang tua karena kejadian-kejadian tidak enak di masa lalu. Sangat lama saya mencoba berdamai dengan keadaan bahwa tidak semua anak beruntung mempunyai orang tua yang mau belajar. Saya yakin kalau semua orang tua pasti sayang dengan anaknya, tapi tidak semua orang tua mau belajar menjadi orang tua yang asik dan menjadi sahabat untuk anaknya.
Setelah bertahun-tahun mencoba berdamai dengan keadaan, sekarang saya sudah mulai tegak berdiri, tidak takut lagi mempelajari hal baru tentang parenting karena takut akan flashback ke belakang dan mengasihani diri sendiri. Ini semua karena kesabaran suami yang luar biasa, sabar saat istrinya berbuat salah dan menasehati dengan lembut, dan juga memberi contoh yang baik untuk saya.
Saya tidak mau mencontoh orang tua saya dalam perlakuannya kepada anak. Saya ingin lebih baik dan ingin anak saya juga mendapat perlakuan terbaik dari orang tuanya. Tapi bukan berarti saya tidak pernah melakukan kesalahan. Saat saya marah dan berteriak kepada anak, satu detik setelah itu saya sadar kalau saya sangat mirip dengan mama saya dulu. Mungkin itu yang disebut dengan "inner child". Secara tidak sadar saya meniru perlakuan orang tua saya dulu walaupun saya sangat tidak menyukainya.
Ajaibnya, walaupun saya sering marah, sering khilaf sampai berteriak, anak saya masih tetap ingin bersama saya, tidak mau jauh dari saya, karena fitrahnya anak-anak itu baik, pemaaf. Jadi sebelum dia menyimpan memori-memori tidak enak bersama saya, setiap malam sebelum tidur kami maaf-maafan dan berpelukan. Doakan ibu ya kak.. semoga bisa terus belajar menjadi ibu yang baik untukmu, dan mengantarkanmu menuju fitrahmu sebagai khalifah di bumi ini. Khalifah yang baik, soleh, dermawan, kuat tapi lembut hatinya.
Tumbuh besar saya lalu menemukan bahwa semua yang dilabelkan kepada saya ini disebut "introvert". Saya lebih senang menyendiri di rumah daripada harus bertemu dengan orang-orang apalagi yang belum saya kenal.
Sebenarnya kalo saya tarik ke belakang sifat introvert saya sedikit banyak berasal dari didikan orang tua juga. Saya yang anak perempuan satu-satunya ini dilarang bermain sepulang sekolah, teman dibatasi, hanya boleh berteman dengan anak yang orang tua saya sukai, tidak punya pilihan bahkan cita-cita saya saja diatur harus jadi apa. Tidak boleh mengikuti ekskul di sekolah, les pun privat memanggil guru ke rumah. Ruang gerak saya sangat dibatasi. Jadi sampai saya sebesar ini sekarang, teman saya bisa dihitung hanya dengan hitungan jari saja.
Sejak menikah, hamil dan punya anak, saya jadi rajin mencari tahu tentang ilmu parenting. Saya jadi tahu kalau yang orang tua saya lakukan dulu itu salah, saya jadi tahu kalau ternyata ada hak anak yang harus dipenuhi oleh orang tuanya.
Anak juga punya pemikiran sendiri yang nanti ketika dewasa harus hidup dengan dunianya sendiri dan akan menghadapi kesulitan hidupnya sendiri.
Segala fasilitas dan batas yang terlalu berlebihan pada akhirnya akan menjadikan anak sebagai orang yang tidak mandiri, tidak bisa memutuskan sesuatu sendiri, tidak kuat dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup yang dihadapi.
Sempat juga saya merasa marah kepada orang tua karena kejadian-kejadian tidak enak di masa lalu. Sangat lama saya mencoba berdamai dengan keadaan bahwa tidak semua anak beruntung mempunyai orang tua yang mau belajar. Saya yakin kalau semua orang tua pasti sayang dengan anaknya, tapi tidak semua orang tua mau belajar menjadi orang tua yang asik dan menjadi sahabat untuk anaknya.
Setelah bertahun-tahun mencoba berdamai dengan keadaan, sekarang saya sudah mulai tegak berdiri, tidak takut lagi mempelajari hal baru tentang parenting karena takut akan flashback ke belakang dan mengasihani diri sendiri. Ini semua karena kesabaran suami yang luar biasa, sabar saat istrinya berbuat salah dan menasehati dengan lembut, dan juga memberi contoh yang baik untuk saya.
Saya tidak mau mencontoh orang tua saya dalam perlakuannya kepada anak. Saya ingin lebih baik dan ingin anak saya juga mendapat perlakuan terbaik dari orang tuanya. Tapi bukan berarti saya tidak pernah melakukan kesalahan. Saat saya marah dan berteriak kepada anak, satu detik setelah itu saya sadar kalau saya sangat mirip dengan mama saya dulu. Mungkin itu yang disebut dengan "inner child". Secara tidak sadar saya meniru perlakuan orang tua saya dulu walaupun saya sangat tidak menyukainya.
Ajaibnya, walaupun saya sering marah, sering khilaf sampai berteriak, anak saya masih tetap ingin bersama saya, tidak mau jauh dari saya, karena fitrahnya anak-anak itu baik, pemaaf. Jadi sebelum dia menyimpan memori-memori tidak enak bersama saya, setiap malam sebelum tidur kami maaf-maafan dan berpelukan. Doakan ibu ya kak.. semoga bisa terus belajar menjadi ibu yang baik untukmu, dan mengantarkanmu menuju fitrahmu sebagai khalifah di bumi ini. Khalifah yang baik, soleh, dermawan, kuat tapi lembut hatinya.








