Senin, 24 September 2018

INTROVERT


Dulu saya sering mendapat label dari keluarga dan orang-orang sekitar sebagai anak yang pemalu, takut orang, minderan, gak pede.
Tumbuh besar saya lalu menemukan bahwa semua yang dilabelkan kepada saya ini disebut "introvert". Saya lebih senang menyendiri di rumah daripada harus bertemu dengan orang-orang apalagi yang belum saya kenal.
Sebenarnya kalo saya tarik ke belakang sifat introvert saya sedikit banyak berasal dari didikan orang tua juga. Saya yang anak perempuan satu-satunya ini dilarang bermain sepulang sekolah, teman dibatasi, hanya boleh berteman dengan anak yang orang tua saya sukai, tidak punya pilihan bahkan cita-cita saya saja diatur harus jadi apa. Tidak boleh mengikuti ekskul di sekolah, les pun privat memanggil guru ke rumah. Ruang gerak saya sangat dibatasi. Jadi sampai saya sebesar ini sekarang, teman saya bisa dihitung hanya dengan hitungan jari saja.
Sejak menikah, hamil dan punya anak, saya jadi rajin mencari tahu tentang ilmu parenting. Saya jadi tahu kalau yang orang tua saya lakukan dulu itu salah, saya jadi tahu kalau ternyata ada hak anak yang harus dipenuhi oleh orang tuanya.
Anak juga punya pemikiran sendiri yang nanti ketika dewasa harus hidup dengan dunianya sendiri dan akan menghadapi kesulitan hidupnya sendiri.
Segala fasilitas dan batas yang terlalu berlebihan pada akhirnya akan menjadikan anak sebagai orang yang tidak mandiri, tidak bisa memutuskan sesuatu sendiri, tidak kuat dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup yang dihadapi.
Sempat juga saya merasa marah kepada orang tua karena kejadian-kejadian tidak enak di masa lalu. Sangat lama saya mencoba berdamai dengan keadaan bahwa tidak semua anak beruntung mempunyai orang tua yang mau belajar. Saya yakin kalau semua orang tua pasti sayang dengan anaknya, tapi tidak semua orang tua mau belajar menjadi orang tua yang asik dan menjadi sahabat untuk anaknya.
Setelah bertahun-tahun mencoba berdamai dengan keadaan, sekarang saya sudah mulai tegak berdiri, tidak takut lagi mempelajari hal baru tentang parenting karena takut akan flashback ke belakang dan mengasihani diri sendiri. Ini semua karena kesabaran suami yang luar biasa, sabar saat istrinya berbuat salah dan menasehati dengan lembut, dan juga memberi contoh yang baik untuk saya.
Saya tidak mau mencontoh orang tua saya dalam perlakuannya kepada anak. Saya ingin lebih baik dan ingin anak saya juga mendapat perlakuan terbaik dari orang tuanya. Tapi bukan berarti saya tidak pernah melakukan kesalahan. Saat saya marah dan berteriak kepada anak, satu detik setelah itu saya sadar kalau saya sangat mirip dengan mama saya dulu. Mungkin itu yang disebut dengan "inner child". Secara tidak sadar saya meniru perlakuan orang tua saya dulu walaupun saya sangat tidak menyukainya.
Ajaibnya, walaupun saya sering marah, sering khilaf sampai berteriak, anak saya masih tetap ingin bersama saya, tidak mau jauh dari saya, karena fitrahnya anak-anak itu baik, pemaaf. Jadi sebelum dia menyimpan memori-memori tidak enak bersama saya, setiap malam sebelum tidur kami maaf-maafan dan berpelukan. Doakan ibu ya kak.. semoga bisa terus belajar menjadi ibu yang baik untukmu, dan mengantarkanmu menuju fitrahmu sebagai khalifah di bumi ini. Khalifah yang baik, soleh, dermawan, kuat tapi lembut hatinya.

Kamis, 20 September 2018

Game level 1 (hari ke sepuluh)

Bismillah..
Finally, alhamdulillah selesai jugaa setor tantangan hari ke sepuluh. Walaupun agak mepet deadline, walaupun cuma bisa setor untuk badge dasar aja, 10 hari itupun ga berururutan. Gak papa lah ya..karena lagi repot di rumah banyak tukang 😄 alasan. Baru tadi sore nganter attar ke dokter anak, karena udah 2 hari demam dan ngeluh sakit perut dan pusing. Agak lumayan sih bujuk dia ke dokter. Karena belum lama temen sekelasnya cerita kalo dia habis periksa ke dokter dan disuntik (diambil darahnya) jadi deh attar takut disuntik juga. Pelan-pelan bilang kalo nanti kakak ga akan disuntik, karena sakitnya beda sama adam (temen sekelasnya). Dengan sedikit penjelasan singkat dan dengan bujuk rayu akhirnya mau juga ke dokter. Alhamdulillah ga ada penyakit yang serius, cuma hanya perlu istirahat, makan dan minum yang banyak. Get well very soon baby boy 😘

Selasa, 18 September 2018

Game level 1 (hari ke sembilan)

Bismillaah..
Hari ini ada yang demam.. lagi main sama temennya tiba-tiba lari dan nangis, sakit perut katanya. Aku suruh dia tidur siang dan istirahat, karena jarang banget dia tidur siang maunya main terus. Bangun tidur tiba2 badannya panas, 39 derajat. Aku tanya, "kakak demam..rasanya gimana kak?pusing ya?perutnya masih sakit?"
Dia jawab pusing dan lemes.. Oke, kita liat sampe besok pagi ya kak..kalo masih demam kita ke dokter ya.



Senin, 17 September 2018

Game level 1 (hari ke delapan)

Bismillaah..
Attar lagi belajar menulis bismillahirrohmanirrohim dengan tulisan arab. Awalnya dia bilang susah dan ga mau mencoba. Selalu bilang ga bisa. Aku kasih semangat dan meyakinkan kalo kakak pasti bisa. Akhirnya dia mau mencoba dan bisa walaupun masih belum rapi gak papa karena masih belajar.


Game level 1 (hari ke tujuh)

Bismillaah..
Masih postingan rapelan.
Kemarin solat ashar di masjid sama attar dan adam, temen sekolahnya. Waktu aku sholat, attar dan adam lari-lari di dalam masjid. Setelah aku selesai solat, aku tegur mereka, boleh main tapi jangan bersuara supaya ga mengganggu yang sedang beribadah di masjid. Setelah itu aku minta attar dan adam untuk solat. Mereka solat tapi gerakannya masih salah dan banyak main dan bercanda. Aku puji attar karena sudah mau solat walaupun gerakannya salah.

Game level 1 (hari ke enam)

Bismillaah...
Super late post ini..😣 lebih karena bingung apa yang mau diceritain sih.. karena komunikasi sehari-hari kami ya gini-gini aja..😅 Tapi hari ini mau mencoba merapel keterlambatan post 5 hari ke belakang.
Belakangan ini attar lagi sering banget ngambek, nangis sambil teriak-teriak. Kemarin dia pengin nginep di rumah temen sekolahnya. Ga jauh sih dari rumah, cuma aku khawatir kalo malem-malem dia minta pulang, takut ngerepotin. Jadi ga aku bolehin nginep. Dia nangis teriak-teriak. Aku diemin aja dulu dia keluarin emosinya, setelah capek nangis 5 menit, aku tawarin peluk. "Udah selesai nangisnya kak? Mau ibu peluk?" Dia ngangguk, "sini ibu peluk". Setelah berpelukan dan dia tenang, baru aku jelasin kenapa ga boleh nginep di rumah temen, bukannya ga boleh, ibu bolehin asal kakak mau janji malem-malem ga boleh nangis minta pulang, karena akan ngerepotin ayah dan ibunya adam. Akhirnya dia bilang "oke, kakak pikir-pikir dulu ya ibu, jadi nginep di rumah adam atau engga". Memang butuh kesabaran ekstra, kita jangan sampai terpancing emosi kalau anak lagi marah-marah, nangis teriak-teriak. Biarkan aja dia menyelesaikan emosinya setelah itu kita tenangin dengan pelukan dan jelasin kenapa ga boleh.




Selasa, 11 September 2018

Game level 1 kelas bunda sayang (hari kelima)

Bismillah...
Postingan ini juga late post, ini kejadian beberapa hari yang lalu saat aku dan suami sedikit berkonflik.
Awalnya, pagi-pagi suami nganter anak sekolah. Sebelum berangkat memang dia pesan untuk ngeluarin mobil dari garasi karena rumah sedang direnovasi dan banyak tukang wara-wiri. Tapi aku lupa, sampe suami pulang mobil masih ada di garasi. Suami langsung ambil kunci mobil dan keluarin mobil sendiri dari garasi. Setelah itu mukanya cemberut dan diem. Aku dan suami tipe orang yang kalo marah kita diem. Jadi kalo lagi marahan rumah kita sepi karena saling diem😂. Kalo dulu, masalah kecil gini bisa awet diem-dieman berhari-hari karena ga ada yg mau ngalah untuk minta maaf atau ngobrol supaya masalahnya clear. Tapi sekarang aku udah berusaha lebih komunikatif ke suami, ada masalah yang ngganjel pasti aku bilang. Walaupun ga bisa bilang secara langsung karena pasti ada emosi dan malah jadi makin berantem, aku selalu milih untuk clear in masalah lewat wa atau email kalau masalahnya perlu dijelasin panjang lebar. Dan suami juga alhamdulillah tipe yang sabar banget, dan mudah memaafkan sebenernya. Jadi aku jelasin kenapa aku kesel sama suami, minta maaf dan selesai.